Minggu, 23 Agustus 2009

BEING

Tuhan menciptakan siang dan malam dengan perantara senja dan pagi. Begitu juga apa yang ada didunia ini, karena alam dibentuk sedemikian rupa untuk kita belajar memahaminya.


Pernah lihat kartun Doraemon? hihi.. kartun ini ga ada mati-matinya sampai sekarang masih terus ditayangin di salah satu TV swasta, bahkan tontonan seperti ini masih digemari jutaan anak-anak di Indonesia. Kisah tentang kucing robot yang selalu membantu Nobita dengan kantong ajaibnya, semua masalah yang Nobita hadapi selalu beres dengan sekejap. Bayangin jika kartun ini tertanam dalam sikap mental seseorang, misalnya saja seorang anak ingin sesuatu maka keinginannya tersebut harus dipenuhi dengan segera, tidak peduli bagaimana keinginannya itu diperolehnya yang penting keinginan tersebut dapat tercapai dengan segera.

Hmm.. apakah itu baik? coba kita renungkan sejenak bagaimana sebutir nasi yang kita makan pagi ini mengalami proses hingga tersedia di depan mata kita yang siap disantap? Mulai dari penanamannya-distribusi-penjualan-hinga dimasak, pasti rumit sayapun enggan memikirkannya, karena mental saya-pun tertanam dalam sikap yang serba instan, baik atau tidaknya entahlah tergantung dari sisi mana kita lihat. Jika kita ingin turun dari ketinggian beberapa meter baiknya kita melewati tangga, tapi jika ingin cepat loncat saja sekalian.

Ada beberapa orang yang memilih kesuksesan dengan cara jalan pintas, seperti acara idol-idolan yang saya ketahui merupakan acara pencarian bakat secara instan sudah berapa orang yang dihasilkan acara idol-idolan ini yang dirasa cukup sukses, tetapi kesuksesan mereka di bentuk oleh produser yang membentuk mereka, bayangin kalau acara idol ini tanpa ada produser yang membuat mereka para idol ini menjadi menarik perhatian penonton, pasti mereka tidak menarik. Lagipula orang jebolan idol itu tidak ada yang terlihat lagi, kesuksesan merekapun terasa instan.

Sedangkan ada beberapa orang diluar sana melewati kesuksesan dengan jalan yang panjang dan berliku, kesuksesan mereka memang didasari oleh kesadaran mereka yang ingin berusaha dengan bahan bakar kesabaran dan ketekunan, kesuksesan mereka bukan karena produser yang membuat dia seperti "apa", namun karena, mereka terbentuk dengan kehendak dirinya. Banyak juga yang tidak berhasil itu karena dia berhenti ditengah jalan. Jadi intinya jangan pernah berhenti ditengah jalan, nikmatilah perjalanan itu setapak demi setapak.


Jika kita memahami Taekwondo, nikmatilah sebuah proses, karena dalam proses tersebut akan menciptakan kesadaran, kesadaran akan perubahan, perubahan yang tidak akan berhenti dalam situasi apapun.


Yup..filsafat Taekwondo dirasa cukup menggambarkan tentang proses tersebut. Saat awal kita berlatih menggunakan sabuk putih yang menandakan kita seperti "tabula rasa" kertas kosong yang belum kotor dengan berbagai macam pengalaman (ilmu), setelah itu naik kuning, hijau, biru, merah, dan terakhir hitam. Tidak memungkinkan seseorang dari putih lansung naik ke hitam, jika adapun sangat disayangkan.

Permasalahan di dunia ini tidak hanya "ada" dan "tiada" tetapi ada proses yang menyertainya yaitu "menjadi". Dunia ini bukan magic dan sesederhana dunia Doraemon atau Harry Potter semacamnya. Ini adalah realitas yang harus di hadapi dengan penuh kesadaran, kesadaran dalam "menjadi" sesuatu, "menjadi" adalah sesuatu yang aktif dan tidak berakhir, "menjadi" akan terus bergerak hingga batas yang tidak ditentukan. Jika sabuk hitam merupakan tingkat tertinggi dalam Taekwondo yang artinya kegelapan, maka seseorang akan sadar bahwa didalam alam semesta ini gelap, kemudian bergerak terus mencari(berlatih) dan mencari (berlatih) tanpa henti dan sadar semua itu gelap.

Jika kita memahami Taekwondo menurut prinsip ini, kita akan menemukan solusi, dan terus berubah keterampilan, kita tidak akan pernah terhenti, dalam situasi apapun, bukan dengan jalan pintas tetapi jalan yang panjang dan penuh liku.

5 komentar:

  1. interupsi..doraemon jg mengajarkan arti sbuah kerja keras saat akan meminjamkan alatnya ke orang lain..coz nobita slalu kena btunya klo niatnya ga baik saat meminjam alat doraemon.

    BalasHapus
  2. haha.. itumah bukan kerja keras, tapi emang karena Nobitanya yang oon.
    Kerja kerasnya dia cuma merengek minta ama Doraemon, bukannya kerja keras membuat alat dengan jidat dan keringat sendiri.

    Kaya gue minta apa2 ama nyokap.. bukannya kerja, malah nadang, ngerengek, kalo perlu ancem bunuh diri loncat dari menara sutet gara2 ga dibeliin sepeda (kayanya ada nih diberita)

    Bukan hanya Doraemon aja lho.. kebetulan aja tuh kartun jadi korban.. wakakak...

    BalasHapus
  3. tapi sebenernya adil ga c jika ada orang yang bisa ngedapetin semuanya dengan mudah tanpa harus kerja keras ketimbang kita yang harus bersusah payah dulu untuk ngedapetin sesuatu yg kita inginkan ..!!

    Ato mungkin itu sebuah takdir tuhan ..??
    jadi kita hanya harus nerima ...!!

    BalasHapus
  4. Kalo menurut gw adil...

    Kalau orang yang ngedapetin segala sesuatu dengan mudah secara mental pasti berbeda dengan orang yang ngedapetin sesuatu dengan kerja keras dan bersusah payah terlebih dahulu.

    Orang yang pertama pasti jadi orang yang ketergantungan, lemah,parasit, terikat, kacung budaya, bahkan dalam kondisi tertentu bunuh diri sebagai jalan pintas.

    Orang yang kedua pasti dia adalah orang yang indivualistik, mandiri, kuat, bebas, sabar, ulet, mampu mengendalikan budaya.

    Belum adakan orang yang sukses hanya dengan makan, tidur??

    Bgitulah Tuhan Maha adil..

    BalasHapus
  5. good answer ..!!
    betul juga buat apa kita dapet semua tp kita ga bisa puas dengan apa yg kita dapetin ..!!

    BalasHapus